Kuberi ia nama; Astungkara Nitisamasta

Ketika yang lain biasanya membahas tentang nama anak ketika anaknya baru lahir atau ya pas masih kicik gitu lah.
Gue baru akan membahas nama Astu sekarang, karena gue merasa perlu untuk melakukan ini sebagai salah satu penerimaan dan berdamai dengan diri sendiri.

Sudah sejak lama gue menemukan banyak akun di Facebook, Instagram, Blog bahkan nama Travel Agent dan pusat pelatihan yang menggunakan sebuah nama; Nitisamasta. Nama yang waktu gue dan Bhaga bikin rencananya sih cuma buat anak kami ya. Tapi ternyata… Ya tida mungkin dong, Lika. Netizen sudah tahu dan notice, kalau sudah begitu suda jadi milik netizen. Argumenmu mah cuma res-resan tahu bulat sebab netizen tida perna sala~

Tetapi tidak semudah itu ternyata melihat sederet huruf bermakna yang bagi mereka mungkin hanya sekadar nama tapi bagi kami memiliki arti dan cerita.
Pertama kali gue tahu ada yang pakai nama itu, kata itu, gue menangis.

Selama ini gue diam saja karena Bhaga dan orang-orang terdekat bilang untuk tidak usah terlalu dipikirin, biarkan saja. Ya tapi gimana ya, nama itu lahir ketika Astu lahir. Call me overreacted, but it has sentimental issue for me as a mother.

“Apaan sih bor, nama doang woi,” Ujar netyzyen.

Iya, mungkin buat sebagian orang itu hanya hal sepele yang tidak sepatutnya dibesar-besarkan. Itu cuma nama, nyomot kata-kata dari kamus terus dirangkai yang mana kalian juga pasti bisa (nah kalau bisa, bikin sendiri kali ya.)

Mungkin karena ini anak pertama, yang juga buah dari perjalanan panjang gue dan bapaknya. Makanya ketika gue hamil, gue dan Bhaga sepakat untuk mencarikan nama yang menggambarkan cerita serta harapan-harapan kami.
Karena buat gue lebih seru, ketika anak gue menjawab makna namanya kepada orang-orang yang bertanya, ia akan menceritakan kisah panjang tentang dirinya dan cerita orang tuanya. Mungkin, itu akan membuatnya lebih bangga dengan nama yang tersemat padanya.

Gue sudah sering menerima pertanyaan,”Kak, namanya bagus sekali artinya apa?” “Kak, Nitisamasta itu apa sih?” “Namanya unik, boleh tahu artinya?”
Bahkan kalau gue google nama lengkap Astu, entah siapa yang sampai bela-belain mencari nama lengkapnya di situs arti nama. Satu pun tidak pernah gue jawab.

Disatu sisi karena gue ingin Astu saja yang tahu arti namanya, di satu sisi juga sulit menjelaskan hanya dengan 140 karakter. Semua yang berhubungan dengan Astungkara, ingin gue ceritakan sepanjang-panjangnya dari akar hingga kelahirannya.
Tetapi ternyata, seperti bola liar yang bergulir dan panas. Gue menyadari (kadang disadarkan) mulai banyak yang memberikan nama Nitisamasta ke anak-anak pertama mereka, laki-laki bahkan perempuan. Sungguh, ini yang membuat gue kalut; persis seperti anak kecil yang cemburu dan di saat yang bersamaan, gue menjadi orang dewasa yang bingung.

Bayangkan dirimu dan benda kesayanganmu di masa kecil, bayangkan seseorang yang tak tahu apa artinya benda itu untukmu, dengan mudah merebutnya darimu tanpa tahu betapa berartinya benda itu bagimu.

Dan sebagai orang dewasa, gue bingung..
Memang yang pada pakai nama belakang Astu itu pada tahu arti namanya? Bisa aja artinya, jangan lupa cuci tangan sebelum tidur! Ehek.

Mari kita mulai dengan menarik mundur ke ribuan hari yang lalu, ketika hidup masih hingar bingar, pukul 3 pagi tempat pemikiran-pemikiran serta percakapan paling seru lahir di antara gelas-gelas tak bertuan, masa-masa di mana waktu di jam terbaiknya tak dilewatkan dengan tidur atau ngelindur.

Ketika jarak masih memeluk erat kami berdua namun tak sedikit pun mematahkan harapan serta doa-doa. Kami yang tak peduli berapa pun banyaknya suara yang menentang, kami tetap lantang. Kami yang tak peduli jika tertatih, meski perih. Kami yang tetap saling genggam demi sebuah hari yang isinya percakapan serta pertengkaran antara kami berdua tanpa harus ada perpisahan di malam hari.

“Astungkara, semoga kelak kita bersama.” Mantra yang kami sebut dan ucapkan berulang-ulang, berjuta-juta kali sampai lidah kelu dan mengalir dalam darahku.

Kami berdua seperti anak kecil yang menabung berdua untuk sekotak cokelat dengan berbagai rasa; ada yang manis, ada yang asam dan ada juga yang pekat dan pahit. Kami paham betul sekotak cokelat yang kami inginkan itu tidak akan mudah untuk dimiliki, namun kami tidak patah. Kami terus menabung sekeping demi sekeping doa dan percaya dengan sekotak cokelat sebagai hadiahnya serta harapan sebagai bahan bakarnya.
Jarak kami lipat, perdu-perdu ragu kami pangkas habis dari pekarangan rumah kami, merekatkan percaya sebagai pondasi dan mengikat jemari satu sama lain lebih erat dari tali temali para pelaut pukul dini hari.

Hubungan jarak jauh kami tempuh selama satu tahun dengan jarak 1193 km antara Bali – Jakarta membuat gue akrab sekali dengan ungkapan Astungkara yang saat itu gue pahami sebagai salam pengharapan. Kata yang selalu muncul ketika kami berdekatan atau pun berjauhan, kata yang sudah akrab dan begitu dekat dalam hidup kami bahkan jauh sebelum membayangkan akan ada anak laki-laki kecil ini yang memeriahkan hidup kami. Cerita tentang jarak dan pasangan yang sudah sering kami abadikan dalam onggok-onggok puisi atau prosa yang pasti sudah bosan kalian baca melalui mata gue atau Bhaga.
Tapi yang pasti, gue percaya bahwa semua cerita sudah digariskan semesta dan kalau memang sudah sepatutnya terjadi maka terjadilah.

Seperti kata orang-orang,“Be careful what you wish for,” karena ketika harapan satu persatu menjadi nyata, bukan seberapa senang lo menerima hal itu, tetapi seberapa siap lo harus menghadapi itu. Doa-doa kami yang tercerai berai, hasil menimbun di antara lipatan langit ratusan malam sebelumnya perlahan-lahan dikabulkan,
satu,
persatu,
sampai lengkap.

Dari yang hanya kau dan aku, kini berubah jadi kita. Dari yang cuma berdua, sebentar lagi akan bertiga. Dari yang hanya berharap untuk kami saja, jadi merencanakan jauh ke masa depan yang kami sendiri juga tidak tahu akan jadi apa.
Yang jelas kami berharap manusia baru yang sedang bertumbuh dalam tubuh ini menjadi manusia yang memanusiakan manusia lain dan sebagai orang tuanya, kami secara sadar memberikan restu baginya untuk dengan bijak menjalani kehidupannya secara utuh dan menyeluruh ke mana pun kakinya akan melangkah. Untuk hidup yang berani mengakui bila dirinya salah dan berani berteriak bila dirinya benar, untuk tubuh yang tumbuh melawan dan berkawan. Harapan untuk ia tidak akan pernah menganggap dirinya lebih rendah atau orang lain lebih tinggi darinya; namun setara.

Kami mengawinkan ungkapan yang menemani perjalanan hidup kami dan dua kata yang kami temukan dalam kamus bahasa Jawa Kuna milik ibunya. Di hari kelahirannya, lahirlah manusia baru dengan sebuah doa dan cerita yang tersemat sebagai namanya; Astungkara Nitisamasta.
Yang tak akan pernah bisa kami pisahkan dari cerita perjalanan panjang kehidupan kami, dengan segenap tangis, tawa, doa dan harapan di dalamnya.
Silakan artikan sesuai pemikiranmu, dan semoga itu adalah pikiran yang baik.
Artikanlah secara harafiah sebagai orang yang akan meniti semesta jika memang kamu mau, jadilah teman baik dan tempat bernaung bagi dirinya sejauh apa pun kakinya melangkah.

Astungkara Nitisamasta memiliki makna yang lebih besar dari arti harafiah dan persepsi-persepsimu.

Sebab buat gue dan Bhaga,
di hari ia lahir,
apa pun nama yang kami sematkan untuknya,
ia turut melahirkan kami.
Dan itu,
lebih dari cukup.

Advertisements

22 thoughts on “Kuberi ia nama; Astungkara Nitisamasta

  1. Kak Lika, sungguh ini menyentuh banget. Aku nangis bacanya. Pertama kali aku tau nama lengkap Astu, dalam hati kubilang kalo nama ini bagus dan unik. Belum pernah tau ada yg punya nama ini. Dan benar, sebuah nama adalah doa bagi orang tua untuk anaknya. Semoga Astu selalu sehat dan tumbuh menjadi manusia yg memanusiakan manusia. I love you and your lil family, kak. Astu pasti sangat bangga memiliki ibu seperti Kak Lika dan Kak Bhaga. Be happy always.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s